Di awal 1990-an aktivitas dakwah di Kampus ITB terbagi atas 2 mainstream, kelompok progresif dan kelompok revivalis. Kalau dipetakan, kelompok progresif punya kesepahaman dengan PAN, sementara revivalis dengan PKS. Teman-teman dari dua kelompok juga akhirnya bergabung dengan kedua partai itu setelah menjadi alumni. Embrio-embrio aktifis dakwah muncul dari didirikannya LDM, lembaga dakwah mahasiswa di masjid Salman oleh bang Imaduddin AbdulRahim sekitar 1970-an. LDM ini didirikan karena kampus dibekukan oleh penguasa jaman itu dan para aktifis keluar dari kampus. Ada yang ke masjid Salman, ada mendirikan LSM, dan ada yang apatis.
Setelah bergiat di luar kampus, pertengahan 1980-an aktifis masjid Salman berpikir pentingnya mendirikan organisasi dakwah di kampus.Lahirlah Keluarga Mahasiswa Islam (GAMAIS) yang digawangi dedengkot dakwah dari tiap jurusan di ITB. Lahirnya GAMAIS menggoyang stabilitas kampus yang dikuasai mahasiswa beraliran sosialis. Persaingan politik kampus meledak di tahun 1988 ketika mahasiswa baru diminta senior-seniornya mengadakan acara Iota Tau Beta. Friksi di tingkat senior antara lembaga-lembaga politik merembet ke angkatan terbaru.Kampus terbagi dua dan susah bersatu kembali.
Allah bertindak secara misteri.
Demo 5 Juli Agustus 1989 menolak kedatangan Menpen Mendagri Rudini saat membuka penataran mahasiswa baru1989 membawa para pemimpin mahasiswa ke penjara. Ada seorang yang dikenal berpaham sosial sekuler, berubah total menjadi sufi yang zuhud. Pacarnya ikut memakai jilbab dan tak lama kemudian mereka menikah setelah sang lelaki keluar dari penjara.
Di sisi lain kehadiran GAMAIS mulai diperhitungkan. Benih-benih gerakan yang berkiblat kepada Ikhwanul Muslimin dan Hasan al-Banna mulai timbul di permukaan sementara aktifis dakwah progresif tetap memakai saluran-saluran mentoring masjid Salman – GAMAIS sebagai tempat pembinaan kader-kader. Akhirnya berujung dua pemahaman besar dalam GAMAIS yang tergambar dalam alotnya pemilihan kepala keluarga dan diskusi-diskusi yang hangat.
Paham Syiah yang dipimpin Jalaludin Rahmat mulai marak dan beberapa aktifis dakwah progresif tertarik untuk menyelami lebih lanjut. Dengan lembaga yang didirkan di daerah Kiara Condong, kang Jalal berupaya mempopulerkan pemikiran-pemikirannya dan lewat Mizan, karya-karyanya mulai dibicarakan orang. Pemikiran Syiah modern seperti Ali Syariat laku di kalangan mahasiswa. Dari segi logika dan filsafat, Syiah termasuk unggul karena beberapa ilmuwannya berpikiran bahwa untuk melawan Barat, logika harus dilawan logika. Praktis paham revivalis dan progresif mainstream tidak dilihat Syiah (modern) sebagai musuh. Musuh bersama adalah kebiudayaan Barat. Entah kalau musuh bersama ini sudah tunduk.
Dalam kampus Syiah hanya dibicarakan sebatas diskusi untuk memperkaya analisa kondisi umat Islam internasional, dan pembicaraan tidak menyentuh politikisasi kampus. Dari cerita ngalor-ngidul di atas, sepertinya Syiah bukan ancaman selama masih ada musuh bersama: kebudayaan Barat yang memiskinkan orang dan mengeksploitasi negara-negara berkembang.
Ditulis oleh yudanto 

