Konsep Garmeen Bank

Rabu, 16 Januari 2008

Saya baru selesai membaca Bank Kaum Miskin (Bank for the Poor) – Muhamad Yunus. M. Yunus ini adalah pemenang nobel perdamaian 2006, seorang dekan ekonomi di universitas negeri Bangladesh. Nama banknya adalah Grameen Bank (bank pedesaan). Inti dari banknya adalah meminjamkan uang kepada orang miskin tanpa jaminan sekaligus menjadikan orang miskin itu menjadi pemilik saham banknya. Mirip dengan konsep koperasi simpan-pinjam dan BRI jaman dulu.

Target market adalah 50% lapisan orang termiskin dan mayoritas adalah perempuan pedesaan. Orang miskin tidak usah diajari pelatihan macam-macam seperti: permodalan, perikanan atau pertanian. Mereka tahu cara mereka sendiri untuk hidup. Hanya cukup diberi kemudahan atas modal yang sedikit saja, mereka sudah bisa berusaha dan berhasil.

Di lapisan terbawah kemiskinan ini, tidak perlu modal, karena kalau mereka mangkir, mereka tidak bisa meminjam lagi. Jadi jaminan mereka adalah nyawa mereka. Mereka perlu modal untuk hidup dan keluar dari kemiskinan. Rate pengembalian dari tahun ke tahun tidak pernah kurang 90%. Sepuluh persen tidak sanggup membayar karena bencana alam dan kematian. Ini menunjukkan bahwa orang miskin itu adalah pejuang-pejuang keras kehidupan.

Gerakan ini dimulai dari suatu desa kecil kemudian meluas ke seluas distrik (kabupaten) dan akhirnya menjadi suatu fenomena nasional di Bangladesh. Dari sini, gerakan menyebar ke seluruh dunia: Amerika Latin, Filipina, Malaysia, Eropa dan Amerika. Di Amerika yang mensponsori adalah gubernur Arkansas waktu itu, Bill Clinton dengan target orang-orang termiskin di negara bagiannya. Dan ini sukses.

Ide dari M Yunus ini adalah perubahan kemiskinan secara struktural dan permanen. Pemerintah tidak perlu ikut campur dalam manajemen. Yang mirip dengan asas ini setahua sayaadalah Dompet Dhuafa atau Portal Infaq. Hanya mungkin daya dobrak semacam M Yunus belum ada atau belum dibangkitkan. Menyitir ucapan M Yunus, agar paham kemiskinan, lembaga-lembaga donatur sekelas IMF/World Bank harus berkantor dekat daerah kemiskinan, pindah dari New York.

Jadi yang kita tunggu sebenarnya adalah gerakan anti kemiskinan yang terstruktur dan permanen. Kalau hanya menyumbang tanpa menyentuh asas penyebabnya, kemiskinan akan terus merajalela. M Yunus sendiri pernah berkunjung ke Indonesia atas undangan SBY. Belum terpikir yang perlu kita lakukan selain menyalurkan zakat kita ke Indonesia.


Investasi di Bank Syariah

Senin, 10 Desember 2007

kalo mau buat analogi, HSBC yang punya divisi syariah, ibarat resto jual halal food dan juga non-halal
tinggal hukum dan prosedur syariahnya dijalani secara ketat atau tidak, karena mengemban label syariah ada badan khusus yang mengesahkannya
di sisi lain, contoh, bank muamalat indonesia atau bank syariah mandiri ibarat resto yang hanya menjual makanan halal. hukum dan prosedur syariah tetap sama tetapi kemungkinan subsidi silang dari / ke non-halal adalah mininum

kalo ternyata mirip dengan fungsi waktu, harusnya dalamnya (kalkulasinya detilnya) berbeda walaupun hasil bisa sama karena bank syariah harus berkompetisi dengan bank konvensional. masyarakat umum lebih tertarik dengan hasil akhir, tidak melihat proses di dalam

kalau masalah pembiayaan pinjaman masyarakat, akad perjanjiannya berbeda. bank syariah akan membeli tunai motor/mobil kemudian dimark-up misal 10% baru dibagi jumlah term pembayaran. biaya mark up bisa sama dengan figurnya dengan biaya bunga, tetapi esensi perjanjiannya berbeda. mark up itu untuk margin keuntungan bank.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.