Banyak kecelakaan di Gunung Salak, dari kecelakaan pesawat sampai manusia. Yang terbaru adalah jatuhnya pesawat Sukhoi. Beberapa catatan kecelakaan yang bisa dilihat balik:
http://www.tempo.co/read/news/2012/05/10/173402885/p-Sukhoi-dan-Kuburan-Pesawat-di-Gunung-Salak
“Berada di ketinggian 2.211 meter, kawasan Gunung Salak dikenal sebagai lokasi jatuhnya sejumlah pesawat. Berikut ini datanya:
- 10 Oktober 2002 Pesawat Trike bermesin PKS 098 jatuh di Lido, Bogor. Korban: 1 tewas.
- 29 Oktober 2003 Helikopter Sikorsky S-58T Twinpac TNI AU jatuh di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Korban: 7 tewas.
- 15 April 2004 Pesawat paralayang Red Baron GT 500 milik Lido Aero Sport jatuh di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Korban: 2 tewas.
- 20 Juni 2004 Pesawat Cessna 185 Skywagon jatuh di Danau Lido, di Cijeruk, Bogor. Korban: 5 tewas.
- Juni 2008 Pesawat Casa 212 TNI AU jatuh di Gunung Salak di ketinggian 4.200 kaki dari permukaan laut. Korban: 18 tewas.
- 30 April 2009 Pesawat latih Donner milik Pusat Pelatihan Penerbangan Curug jatuh di Kampung Cibunar, Desa Tenjo, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor.
Korban: 3 tewas.”
http://nasional.infogue.com/enam_pendaki_gunung_salak_ditemukan
“Keenam mahasiswa itu diduga masuk melalui jalur “tikus” di Cimelati, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, karena sejak awal Januari hingga akhir Februari 2010 jalur pendakian ke Gunung Salak ditutup karena faktor cuaca. Menurut Tomex, pihaknya telah menyiapkan ambulan dan untuk mendukung proses evakuasi diterjunkan 21 anggota kepolisian yang siaga di lokasi. Tomex menjelaskan, posisi enam mahasiswa tersebut ketika ditemukan berada pada 2.100 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan jarak tempuh menuju lokasi evakuasi lima jam.”
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/493663/
“Di kawasan inilah pada April 1987 silam, tujuh siswa STM Pembangunan, Jakarta Timur, ditemukan tewas setelah terperosok ke jurang di Curug Orok yang berkedalaman sekitar 400 meter di punggung gunung berketinggian sekitar 1.600 m.”
Salah satu ciri gunung ini adalah tebalnya kabut dan cuaca yang tidak terduga. Kabut ini bisa menghalangi para pendaki dan pilot pesawat. Saya pernah mendaki gunung ini sekitar tahun 1985. Kabutnya memang tebal. Dan ada anjing kecil liar yang selalu mengikuti kami dari awal perjalanan, istirahat sampai pulang keesokan harinya. Anjiing itu karena tidak mengganggu kami biarkan saja. Dan anjing itu juga ternyata terkenal di kalangan pendaki, sering mengikuti beberapa pendaki. Pada saat mendengar kecelakaan pendakian tahun 1987, berita dari sesama pendaki, sang anjing sudah tidak ada kabarnya sejak 1986. Beberapa keariflan lokal yang harus ditaati oleh pendaki adalah, jangan kencing sembarangan, jangan membuat kerusakan yang tidak perlu dan tidak menyakiti binatang. Secara logika mungkin agak susah menghubungkan kearifan lokal, dan kecelakaan pesawat di gunung Salak. Yang jelas, mari hormati alam dan bumi kita.
salam
yudanto
Ditulis oleh yudanto 

