Sudah 2 seminggu yang lalu saya menonton Ayat-Ayat Cinta, kesimpulan saya: film tanpa klimaks. Novelnya sendiri belum selesai dibaca.
Cerita dimulai dari sosok Fahri sebagai mahasiswa Al-Azhar yang ngetop di kalangan mahasiswa dan mahasiswi Indonesia Al-Azhar. Kemudian cerita mengerucut kepada tiga tokoh utama: Fahri, Maria and Aisha. Secara kilas balik Fahri bertemu Maria pertama kali pada saat Fahri mencari alamat kosnya sementara Maria tinggal dalam flat yang sama. Sementara Aisha berjumpa Fahri ketika ada kejadian dalam bis saat pulang dari kuliah. Aisha sendiri keturunan Jerman tapi tidak mempunyai logat Jerman dalam berbahasa Arab, mungkin ada keterbatasan pemeran. Ada lagi Nurul aktivis mahasiswi Indonesia yang jatuh hati diam-diam. Satu lagi figur perempuan: Noura.
Klimaks mulai dibangun ketika Fahri menolong Noura dari kekejaman ayah. Dengan pertolongan Maria, Nurul dan intel kenalan Fahri, ditemukanlah ibu kandung Noura. Setelah itu berturutan kejadian Fahri ditawarkan calon istri oleh guru talaqi-nya yang ternyata calon itu adalah Aisha. Setelah pernikahan selesai ada problem lagi tentang kebanggaan seorang suami yang melihat sang istri jauh lebih kaya. Segala hal dimanjakan oleh istri dari tempat tinggal mewah, mobil mewah sampai makan malam mewah.
Maria yang sedih menangis tersedu-sedu karena ditinggal nikah Fahri, keluar malam dari rumah dan ditrabrak lari oleh sebuah mobil. Di saat bersamaan Fahri ditangkap polisi karena dituduh memperkosa Noura. Konflik batin Fahri dalam tahanan digambarkan agak detil. Permainan musik latar belakang dimainkan oleh sutradara dengan apik. Kadang hening, kadang musik background ramai, kadang berbisik. Rasanya gejolak batin Fahri digambarkan oleh musik. Sementara itu penggambaran batin Aisha hanya selintas. Lebih banyak diwakili tangis.
Suasana pengadilan Fahri kurang megah dan menggigit. Pengacara dari KBRI untuk Fahri kurang dalam menjiwai peran pengacara, mungkin harusnya pengacara beneran yang berakting. Kesimpulan pengadilan: Fahri akan dihukum mati. Aisha ingin mengajukan Maria sebagai saksi tetapi Maria masih sakit. Disini klimaks mulai dibangun. Aisha minta Fahri menikahi Maria agar Maria terbangun dari koma dan bisa menjadi saksi. Bisa ditebak, Fahri menjadi suami beristri dua. Upacara pernikahan berjalan sendu dan sepertinya dibuat sebagai klimaks awal. Kemudian Maria bersaksi dan Fahri bebas. Penggambaran kesaksian Maria, pengakuan Noura, dan keputusan hakim dibuat cukup bagus dengan musik membahana. Saya yang belum pernah membaca bukunya berpikir, selesailah sang film. Ternyata cerita masih bersambung dengan kehidupan Fahri dengan 2 istri. Ada lucunya dan pedihnya. Klimaks terakhir dibangun lagi dengan akhir Maria meninggal tanpa menyebutkan sebabnya. Apa harus baca bukunya untuk tahu penyebabnya?
Akhir film mirip film India dengan penggambaran Fahri dan Aisha di gurun bergandengan tangan dengan musik di latar belakang sementara seolah di dimensi lain, Maria juga berdiri di padang pasir.
Secara naratif sepertinya sutradara mencoba menerjemahkan cerita semirip mungkin dengan aslinya walaupun jadi mengorbankan klimaks cerita. Bahasa dalam film yang berganti antara bahasa Mesir (Arab/Urdu?) dan bahasa Indonesia secara mulus berhasil ditampilkan oleh sutradara. Dubbing dan casting dari para pemeran dan figuran cukup bagus. Untuk yang mau menonton film ini mungkin sebaiknya baca bukunya dulu.



Kamis, 13 Maret 2008 pukul 9:38 |
KALAU KITA INGIN MENONTON SUAH FILM YANG DIANGKAT DARI SEBUAH NOVEL MAKA KITA WAJIB UNTUK MEMBACA NOVEL TERSEBUT TERLEBIH DAHULU……..KALU TIDAK MAKA KITA TIDAK AKAN BISA MENGHARGAI HASIL KARYA SANG SUTRADARA,KALAU ANDA INGIN MELIHAT FILM ITU MENCAPAI KLIMAKS SESUAI YANG DI NOVEL MAKA FILM TERSEBUT AKAN SELESAI SELAMA 2 HARI, DALAM NOVELPUN SUDAH JELAS KALAU MARIA MEMANG MENINGGAL KARENA PENYAKIT DAN TIDAK DI KETAHUI TERKENA PENYAKIT APA…..JADI SEBAIKNYA SEBELUM ANDA MEMBERI KOMENTAR TENTANG AYAT AYAT CINAT……ALANGKAH BAIKNYA ANDA BACA TERLEBIH DAHULU NOVELNYA
Kamis, 13 Maret 2008 pukul 9:42 |
Sebenarnya menonton film tidak perlu membaca novelnya dulu. Sequel Lord of The Ring bisa ditonton utuh tanpa membaca novelnya. Harry Potter juga. Film itu adalah hasil karya yang utuh hasil interpretasi sutradara. Bisa dilihat terpisah ataupun menyatu dengan novelnya. Sebagai karya film saya berkomentar seperti di atas. Review untuk novelnya lain lagi.
Kamis, 13 Maret 2008 pukul 10:49 |
saya udah sempet ngintip filmnya, saya nilai scene pengadilan gregetnya kurang, konflik2 yang ada di ruang pengadilan, argumen2 yang dikeluarkan hakim, jaksa pengacara dan saksi masih terlalu ‘rendah’ menurut saya, too simple.. g ada beda sama sinetron, saya bilang bgini karena saya sering lihat flm film yang menceritakan tentang konflik di pengadilan (umunya bikinan holiwud) dimana pada film tsb sungguh penuh emosi, ketegangan dan intrik yang cerdas dan bmutu
mungkin karena terbatas durasi jadinya seprti itu ya?
@syafiq:
alangkah baiknya tidak menulis dengan huruf BESAR, dalam etika ber-internet itu tidak sopan (kesannya seperti orang teriak2/marah2)