Dulu tahun 1995 pemerintah mengeluarkan kebijakan mobil nasional. Harapan industri mobil adalah meneruskan dan mengembangkan produksi yang sudah ada dengan menambah local content. Calon kuat adalah toyota kijang dengan local content saat itu lebih dari 60%. Ternyata Tommy Suharto dengan Timor-nya menyalip dari belakang. Saham-saham otomotif Indonesia langsung jatuh dan pasaran mobil turun drastis. Semuanya menunggu ‘mobil nasional’. Saat itu di Astra terkenal isu mobil setan. Mobilnya belum ada, tapi membuat penjualan mobil menurun drastis, terutama kijang dan sedan level pemula.
Setelah Timor keluar dan modelnya tidak sesuai harapan, penjualan mobil kembali normal.Bambang Soeharto yang iri dengan lobi Tommy, ikut meluncurkan Cakra dengan fasilitas pemerintah seperti diskon pajak dan lain-lain. Walaupun banyak eks Astra pindah ke perusahaan produsen Timor dan Cakra, penjualan dua mobil tersebut tidak sesuai harapan. Stok menumpuk dan penjualan tidak seberapa bagus.
Tahun 1997 pemerintah menempatkan Bob Hasan sebagai presiden komisaris Astra International. Isu berhembus bahwa Astra akan di-BUMN-kan. Produk baru New Kijang diluncurkan dan sukses di pasar. Ternyata Juli 1997 krisis moneter dimulai yang membuat program mobnas terlupakan. Dalam krismon itu, hampir semua perusahaan Indonesia menderita termasuk Astra. Rini Suwandi yang mengambil alih posisi dirut setelah Teddy Rahmat pensiun meminta prinsipal Toyota dan Daihatsu ikut membantu. Prinsipal tidak sepenuhnya membantu. Akhirnya tahun 1998, Astra memutuskan untuk divestasi dari pabrikasi otomotif dan fokus ke distribusi. Astra survive dan berhasil melewati krisis.
Karena divestasi dari pabrikasi maka kontrol terhadap desain dan produksi melemah. Tahun 2005, Toyota Kijang versi Indonesia dihentikan dan diganti Toyota Innova. Di Indonesia, agar mudah diterima konsumen, Innova ditumpangkan ke merek Kijang menjadi Toyota Kijang Innova. Praktis desain Innova berasal dari Jepang 100%. Tamatlah Toyota Kijang Indonesia. Yang tinggal adalah divisi spare-part dan pelayanannya. Sementara Daihatsu Espass yang desainnya berasal dari Indonesia harus mengganti namanya, kembali ke tipe sebelumnya: Daihatsu Carry. Walau demikian, desain Espass tetap dipertahankan.
Itulah sekelumit cerita mobnas Indonesia. Silakan berkomentar.



Rabu, 23 Januari 2008 pukul 10:24 |
[...] Here’s another interesting post I read today by mencari aku [...]
Kamis, 24 Januari 2008 pukul 11:20 |
Bagaimana dengan mobil kembar produksi Daihatsu dgn Toyota spt Avanza & Xenia atau Rush & Terios?
Saya nggak tahu soal desainnya dari mana sih, kalo Rush/Terios sptnya adaptasi dari Toyota Rava (yg cukup populer diluar Indonesia). Tapi kalo Avanza/xenia sptnya itu untuk konsumsi Indonesia deh…. (sptnya susah untuk laku di negeri orang)
Tapi memang, tetap saja pake merek Toyota dan Daihatsu – jadi bukanlah merek dalam negeri.
Jumat, 25 Januari 2008 pukul 1:49 |
Mobil kembar itu karena Daihatsu dibeli Toyota. Produk Daihatsu dipasarkan untuk kelas di bawah Toyota. Toyota Avanza cc-nya minimal 1300 dengan fasilitas yang lebih lengkap sementara Daihatsu Xenia ada yang kelas 1000 cc.
Avanza ada di Malaysia tetapi tidak ada Daihatsu Xenia. Sepertinya Avanza dan Xenia adalah produk dari Jepang untuk pasar Asia Tenggara.
Sabtu, 23 Mei 2009 pukul 22:39 |
well.. it’s like I knew!