Cerita Mobil Nasional Indonesia

Rabu, 23 Januari 2008

Dulu tahun 1995 pemerintah mengeluarkan kebijakan mobil nasional. Harapan industri mobil adalah meneruskan dan mengembangkan produksi yang sudah ada dengan menambah local content. Calon kuat adalah toyota kijang dengan local content saat itu lebih dari 60%. Ternyata Tommy Suharto dengan Timor-nya menyalip dari belakang. Saham-saham otomotif Indonesia langsung jatuh dan pasaran mobil turun drastis. Semuanya menunggu ‘mobil nasional’. Saat itu di Astra terkenal isu mobil setan. Mobilnya belum ada, tapi membuat penjualan mobil menurun drastis, terutama kijang dan sedan level pemula.

Setelah Timor keluar dan modelnya tidak sesuai harapan, penjualan mobil kembali normal.Bambang Soeharto yang iri dengan lobi Tommy, ikut meluncurkan Cakra dengan fasilitas pemerintah seperti diskon pajak dan lain-lain. Walaupun banyak eks Astra pindah ke perusahaan produsen Timor dan Cakra, penjualan dua mobil tersebut tidak sesuai harapan. Stok menumpuk dan penjualan tidak seberapa bagus.

Tahun 1997 pemerintah menempatkan Bob Hasan sebagai presiden komisaris Astra International. Isu berhembus bahwa Astra akan di-BUMN-kan. Produk baru New Kijang diluncurkan dan sukses di pasar. Ternyata Juli 1997 krisis moneter dimulai yang membuat program mobnas terlupakan. Dalam krismon itu, hampir semua perusahaan Indonesia menderita termasuk Astra. Rini Suwandi yang mengambil alih posisi dirut setelah Teddy Rahmat pensiun meminta prinsipal Toyota dan Daihatsu ikut membantu. Prinsipal tidak sepenuhnya membantu. Akhirnya tahun 1998, Astra memutuskan untuk divestasi dari pabrikasi otomotif dan fokus ke distribusi. Astra survive dan berhasil melewati krisis.

Karena divestasi dari pabrikasi maka kontrol terhadap desain dan produksi melemah. Tahun 2005, Toyota Kijang versi Indonesia dihentikan dan diganti Toyota Innova. Di Indonesia, agar mudah diterima konsumen, Innova ditumpangkan ke merek Kijang menjadi Toyota Kijang Innova. Praktis desain Innova berasal dari Jepang 100%. Tamatlah Toyota Kijang Indonesia. Yang tinggal adalah divisi spare-part dan pelayanannya. Sementara Daihatsu Espass yang desainnya berasal dari Indonesia harus mengganti namanya, kembali ke tipe sebelumnya: Daihatsu Carry. Walau demikian, desain Espass tetap dipertahankan.

Itulah sekelumit cerita mobnas Indonesia. Silakan berkomentar.


Konsep Garmeen Bank

Rabu, 16 Januari 2008

Saya baru selesai membaca Bank Kaum Miskin (Bank for the Poor) – Muhamad Yunus. M. Yunus ini adalah pemenang nobel perdamaian 2006, seorang dekan ekonomi di universitas negeri Bangladesh. Nama banknya adalah Grameen Bank (bank pedesaan). Inti dari banknya adalah meminjamkan uang kepada orang miskin tanpa jaminan sekaligus menjadikan orang miskin itu menjadi pemilik saham banknya. Mirip dengan konsep koperasi simpan-pinjam dan BRI jaman dulu.

Target market adalah 50% lapisan orang termiskin dan mayoritas adalah perempuan pedesaan. Orang miskin tidak usah diajari pelatihan macam-macam seperti: permodalan, perikanan atau pertanian. Mereka tahu cara mereka sendiri untuk hidup. Hanya cukup diberi kemudahan atas modal yang sedikit saja, mereka sudah bisa berusaha dan berhasil.

Di lapisan terbawah kemiskinan ini, tidak perlu modal, karena kalau mereka mangkir, mereka tidak bisa meminjam lagi. Jadi jaminan mereka adalah nyawa mereka. Mereka perlu modal untuk hidup dan keluar dari kemiskinan. Rate pengembalian dari tahun ke tahun tidak pernah kurang 90%. Sepuluh persen tidak sanggup membayar karena bencana alam dan kematian. Ini menunjukkan bahwa orang miskin itu adalah pejuang-pejuang keras kehidupan.

Gerakan ini dimulai dari suatu desa kecil kemudian meluas ke seluas distrik (kabupaten) dan akhirnya menjadi suatu fenomena nasional di Bangladesh. Dari sini, gerakan menyebar ke seluruh dunia: Amerika Latin, Filipina, Malaysia, Eropa dan Amerika. Di Amerika yang mensponsori adalah gubernur Arkansas waktu itu, Bill Clinton dengan target orang-orang termiskin di negara bagiannya. Dan ini sukses.

Ide dari M Yunus ini adalah perubahan kemiskinan secara struktural dan permanen. Pemerintah tidak perlu ikut campur dalam manajemen. Yang mirip dengan asas ini setahua sayaadalah Dompet Dhuafa atau Portal Infaq. Hanya mungkin daya dobrak semacam M Yunus belum ada atau belum dibangkitkan. Menyitir ucapan M Yunus, agar paham kemiskinan, lembaga-lembaga donatur sekelas IMF/World Bank harus berkantor dekat daerah kemiskinan, pindah dari New York.

Jadi yang kita tunggu sebenarnya adalah gerakan anti kemiskinan yang terstruktur dan permanen. Kalau hanya menyumbang tanpa menyentuh asas penyebabnya, kemiskinan akan terus merajalela. M Yunus sendiri pernah berkunjung ke Indonesia atas undangan SBY. Belum terpikir yang perlu kita lakukan selain menyalurkan zakat kita ke Indonesia.


Amien dan PKS

Rabu, 9 Januari 2008
Kasak-kusuk waktu itu para intel menekan PKS supaya mendukung Wiranto. Kalau tidak, akan ada pembusukan nama partai. Sebenarnya dalam PKS, banyak unsur juga, dari orang harakah kampus, ilmuwan sampai golongan-golongan yang diundang masuk PKS. Total dari perolehan suara PKS, hanya 10% yang kader inti dan fanatik. Lainnya adalah simpatisan, limpahan partai islam lain dan PAN. Yang 10% ini terbagi dan dibagi antara klik HNW dan AM/Suripto. Nah, AM/Suripto ini yang terus mendebat perlunya mendukung AR pada saat itu. Di sisi lain, perolehan suara yang melonjak buat PKS, membuat gamang para pemimpinnya. Mau dibawa kemana persentase suara yang cukup besar itu. Akhirnyalah, dukungan terhadap AR mundur sampai 3 bulan. Walaupun sempat main bola bersama, publikasi dukungan belum sampai sepenuhnya ke akar rumput.
Untuk pilpres selanjutnya, calon yang sudah pasti adalah SBY dan JK. Amien Rais, Megawati dan Gus Dur kemungkinan sudah tinggal melihat saja. Mungkin ada unsur kejutan dari PKS, PAN, PKB dan PDIP. Gosipnya, kalau Sutrisno Bahir jadi capres, cawapresnya adalah: Nia Paramita…..hehehehe…..

TKI Sebagai Katalisator

Rabu, 9 Januari 2008

Ada beberapa alasan politis TKI lebih disukai di Malaysia
1. Komposisi ras Malay-Cina-India secara nasional masih dominan Melayu, tetapi di kota-kota besar, populasi Cina mulai menyusul Malay. Belum lagi ditambah kekuatan ekonomi ras Cina, praktis Malay hanya memegang kendali pemerintahan. Dengan masuknya TKI, diharapkan komposisi ras tidak banyak berubah, bahkan bisa memperkuat dominasi politik Malay. Karena tingkat pendidikan yang rendah dari pekerja asing, tingkat keresahan sosial naik, apalagi banyak bos dan tauke yang berbuat curang. Kejahatan ikut naik selain sumbangsih TKI juga orang Malaysia (Malay, Cina dan India) yang tidak bekerja. Mereka tergoda memakai jalan pintas daripada bekerja berat di perkebunan, proyek pembangunan dan kerja kasar. Walaupun pemerintah Malaysia memulangkan banyak TKI illegal, masalah tidak terpecahkan karena pelaku kejahatan banyak juga dari orang lokal.

2. Sekarang dengan banyaknya pekerja asing dari Myanmar, Laos dan Vietnam, keributan sering terjadi, baik antar pekerja asing atau pekerja dengan bosnya. Mereka yang dari kawasan Indocina lebih nekat dan agresif menentang majikan. Komposisi agama dan ras secara nasional juga mulai berubah karena pemulangan TKI dan banyaknya pekerja Indocina.

3. Beberapa ketegangan ras yang coba diredam mulai tidak bisa dikontrol. Ini terjadi karena kebebasan informasi dan ketimpangan sosial yang mulai terlihat. Setelah ringgit di lepas dari dollar, inflasi mulai naik. Bunga mulai naik. Ada beberapa kalangan yang diuntungkan tetapi juga banyak yang tidak diuntungkan. Situasinya mulai seperti Indonesia akhir 80-an awal 90′an. Selama perut kenyang, politik bisa diabaikan. Jika makanan mulai susah dicari, orang-orang terpikir untuk merombak politik. Akhirnya ada beberapa ketidakpuasan terhadap pemerintah yang disuarakan secara bawah tanah. Biasanya suara ini berupa keirian terhadap fasilitas Malay atau kecemburuan terhadap tingkat sosial Cina.

Secara keseluruhan, TKI diperlukan untuk jadi katalisator konflik antar ras disini selain jadi kambing hitam kalau ada ketidakberesan.

Komentar dipersilaken.